Laman

Perbandingan penghasilan guru di seluruh dunia

0 komentar

Berikut tabel penghasilan guru dari negara negara lain, mungkin dengan melihat ini kita bisa mengukur apakah penghasilan guru di indonesia sudah layak atau belum

  
Negara                        Penghasilan bersih per bulan
Amerika Serikat Rp36.495.000
Inggris Rp32.112.000
Norwegia Rp31.950.000
Jerman Rp29.781.000
Jepang Rp26.649.000
Australia Rp24.678.000
Finlandia Rp20.799.000
Kanada Rp20.124.000
Korea Selatan Rp18.864.000
Perancis Rp17.550.000
Italia Rp13.995.000
Kuwait Rp13.554.000
Portugal Rp12.969.000
Austria Rp11.079.000
Cheko Rp6.129.000
Meksiko Rp5.859.000
Hungaria Rp5.247.000
Polandia Rp4.887.000
Peru Rp4.266.000
Thailand Rp3.492.000
Slowakia Rp3.267.000
Latvia Rp3.213.000
Rumania Rp2.718.000
Lituania Rp2.700.000
Brasil Rp2.691.000
Filipina Rp2.133.000

Sumber: http://www.worldsalaries.org
Continue Reading... Label:


Puisi untuk guru

0 komentar

Menyambut hari Guru berikut kami petikkan beberapa puisi dalam Bahasa Inggris, bagi yang tidak mengerti artinya terjemahkan saja memakai Google Translate, semoga dapat memberikan warna lain dalam memperingati hari Guru tahun ini.


Gratitude to Old Teachers

When we stride or stroll across the frozen lake,
We place our feet where they have never been.
We walk upon the unwalked. But we are uneasy.
Who is down there but our old teachers?
Water that once could take no human weight-
We were students then- holds up our feet,
And goes on ahead of us for a mile.
Beneath us the teachers, and around us the stillness

By Robert Bly (from "Eating The Honey of Words") 


My Teachers

God the Teacher tells me: "Be unconditional!"
I tell God: "I am trying." 

Man the teacher tells me: "Be impartial!" 
I tell man: "I already am." 

Dream the teacher tells me: "Be jovial!" 
I tell Dream: "I am practising."

Reality the teacher tells me: "Be practical!" 
I tell Reality: "Alas, will I, Can I ever be practical?"


By Sri Chinmoy (from "The Wings of Light")





Your Teachers

Let the sky 
Become 
Your teacher. 
You will learn 
How to serve. 

Let the moon 
Become 
Your teacher. 
You will learn
How to love.

Let the sun 
Become 
Your teacher.
You will learn 
How to become.

by Sri Chinmoy




My Five Teachers

My poetry teacher taught me 
How to cry.
My philosophy teacher taught me 
How to dream. 
My religion teacher taught me 
How to bind life. 
My yoga teacher taught me 
How to find Love.
My liberation teacher taught me 
How to create Peace.

By Sri Chinmoy




What Teachers Make

The dinner guests were sitting around the table
discussing life. One man, a CEO, decided to explain
the problem with education. He argued:
"What's a kid going to learn from someone who decided
his best option in life was to become a teacher?"

He reminded the other dinner guests that it's true
what they say about teachers: "Those who can...do. 
Those who can't ... teach."

To corroborate, he said to another guest: "You're a
teacher, Susan," he said. "Be honest. What do you
make?"

Susan, who had a reputation of honesty and frankness,
replied, "You want to know what I make?"

I make kids work harder than they ever thought they
could. I can make a C+ feel like a Congressional Medal
of Honor and an A- feel like a slap in the face if the
student did not do his or her very best." 

"I can make kids sit through 40 minutes of study hall
in absolute silence."

"I can make parents tremble in fear when I call home"

"You want to know what I make?"

"I make kids wonder."

"I make them question."

"I make them criticize."

"I make them apologize and mean it."

"I make them write."

"I make them read, read, read."

"I make them spell definitely beautiful, definitely
beautiful, and definitely beautiful over and over and
over again, until they will never misspell either one
of those words again."

"I make them show all their work in math and hide it
all on their final drafts in English."

"I make them understand that if you have the brains,
then follow your heart...and if someone ever tries to
judge you by what you make, you pay them no
attention!"

"You want to know what I make?"

"I make a difference."

"And you? What do you make?"


By Taylor Mali
Continue Reading... Label:


Sertifikasi Guru

0 komentar




Sertifikasi guru seharusnya diletakkan dalam bingkai pengembangan profesionalitas pendidik dan bukan sekadar alat pemenuhan tuntutan yuridis formal yang penuh aroma politik praktis.
Oleh Waras Kamdi
Fenomena kecurangan dalam pelaksanaan Sertifikasi Guru Dalam-Jabatan lewat portofolio kian menguak apa yang sesungguhnya telah jadi rahasia umum. Terungkapnya kasus plagiasi 1.700 guru di Riau menunjukkan sebagian kecil dari kecurangan dalam memenuhi portofolio sertifikasi guru.
Banyak masyarakat yang merisaukan aneka pelanggaran itu, tetapi program sertifikasi terus saja melaju atas nama pemenuhan amanat peraturan perundang-undangan. Kerisauan juga berkembang di kalangan pimpinan lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK), terutama yang diserahi tugas melaksanakan sertifikasi tersebut.
Dalam lima tahun terakhir (2006-2009), lebih dari 500.000 guru telah diberi sertifikat oleh LPTK yang ditunjuk pemerintah (Kompas, 1/11/2010). Namun, hingga detik ini belum ada kabar menggembirakan adanya peningkatan kinerja guru bersertifikat pendidik itu.
Malahan, sertifikasi telah sempurna menyemaikan dan menyuburkan budaya jalan pintas yang amat mencederai sosok profesional guru itu sendiri. Publik hanya tahu guru-guru bersertifikat itu buah karya LPTK. Ketika mereka gagal mewujudkan impian publik akan peningkatan mutu pendidikan di Tanah Air, LPTK-lah yang pertama akan ditagih akuntabilitasnya.
Ini sungguh tagihan yang amat berat bagi LPTK yang terlibat dalam prosesi sertifikasi guru meskipun sesungguhnya sejak awal sejumlah pimpinan LPTK skeptis mengenai sertifikasi massal itu akan membuahkan hasil seperti diidealkan, yakni peningkatan mutu pendidikan.
Alih-alih menuai kemaslahatan, kita lebih banyak menuai kemudaratan. Angka 
Rp 60 triliun bukan angka kecil untuk peningkatan guru (Kompas, 1/11/2010).
Potensi ”GiGo”
Jauh lebih penting daripada soal pelanggaran adalah menyempurnakan perangkat dan sistem sertifikasi sungguh perlu dilakukan. Prosesi uji kompetensi yang dilakukan empat tahun terakhir banyak mengandung kelemahan, terutama instrumen dan teknik pengumpulan data. Instrumen penilaian yang menggunakan ukuran persepsional sangat berpotensi menghasilkan data dan informasi yang keliru.
Demikian pula teknik penilaian yang asal menelurkan angka juga berpotensi menghasilkan data penilaian yang keliru. Instrumen penilaian yang mengandalkan persepsi penilai, seperti pada penilaian kompetensi sosial, kompetensi kepribadian, dan kompetensi profesional yang dipercayakan kepada kepala sekolah dan (pengawas), sangat sulit dipercaya dapat menghasilkan data valid.
Data penilaian terhadap variabel ini menunjukkan nyaris semua kandidat mendapatkan skor sempurna karena kepala sekolah dan pemda juga merupakan pihak yang berkepentingan. Demikian juga instrumen penilaian kompetensi profesional dan kompetensi pedagogis yang mengandalkan penilaian persepsional terhadap RPP dan sertifikat tanda mengikuti diklat dan aneka macam kegiatan lain juga tak cukup menggambarkan pengembangan profesional.
Skor pengukuran dengan instrumen serba persepsional itu sesungguhnya tak mampu membedakan antara guru kompeten dan tidak kompeten. Artinya, kesimpulan atas kelulusan guru juga berpotensi mengandung kesalahan. Kekeliruan semacam ini dikenal dengan istilah GiGo (garbage in garbage out), masuk sampah, keluar juga sampah. Apalagi pola penilaian kompetensi dengan menggunakan portofolio yang menyerupai borang ini telah dinodai aneka kecurangan.
Portofolio berbasis kelas
Sesungguhnya, menggunakan portofolio untuk uji kinerja guru dalam rangka sertifikasi adalah hal biasa. Bahkan, portofolio diyakini banyak ahli merupakan cara paling andal untuk mengukur kinerja.
Ada dua hal inti yang dilupakan yang membuat portofolio dimaksud jadi sosok lain yang mencederai portofolio itu sendiri. Pertama, diabaikannya unsur analisis dan refleksi kinerja yang mestinya ditampilkan penyusun. Kedua, tak mengukur kinerja, tetapi hal-hal yang bersifat instrumental-input yang masih diduga memengaruhi kinerja.
Sertifikasi guru seharusnya diletakkan dalam bingkai pengembangan profesionalitas pendidik dan bukan sekadar alat pemenuhan tuntutan yuridis formal yang penuh aroma politik praktis. Proses sertifikasi tak boleh terjebak pada justifikasi lulus-tidak lulus saja, tetapi harus menjadi sebuah prosesi yang fungsional-akademis yang memberikan pengalaman belajar bermakna bagi guru di dalam meningkatkan mutu pembelajaran.
Proses sertifikasi guru yang demikian ini menempatkan penilaian sebagai bagian terintegrasi dalam proses pengembangan profesi. Portofolio itu merupakan analisis reflektif tentang praktik pembelajaran yang dilakukan guru dan dampaknya pada belajar siswa.
Jadi, karakteristik khas portofolio berbasis kelas adalah analitik-reflektif. Portofolio berupa laporan analisis (semacam evaluasi sumatif) terhadap kerja profesional guru mengenai segala keputusan tindakan pembelajaran yang telah dilakukan selama rentang waktu tertentu dalam menjalankan tugas sebagai pendidik.
Penilaian portofolio dapat menggunakan instrumen berupa rubrik, dengan skala pemeringkatan tertentu. Semangat yang dibawa adalah pemberdayaan guru. Dengan mekanisme penilaian portofolio ini, guru akan mengelola pembelajarannya dengan kerangka pikir pengembangan, dan dengan demikian berdampak pada proses pertumbuhan profesi secara berkelanjutan karena siklus kinerja yang analitik-reflektif akan menjamin pertumbuhan profesional.
Portofolio berbasis kelas juga tak bias kota, yang konon banyak menyediakan fasilitas seminar dan pelatihan. Untuk menyusun portofolio yang baik, guru cukup berkutat dengan urusan pemantapan pembelajaran. Dengan format portofolio berbasis kelas, di pelosok mana pun guru menjalankan tugas, mereka bisa membuat portofolio terbaik dan ”mengujikan” kompetensi dirinya untuk mendapatkan sertifikat pendidik.
Kompetensi pendidik merupakan bangun utuh antara domain proses berpikir dan domain tindak pembelajaran. Artinya, perangkat uji kompetensi juga satu kesatuan bangun utuh yang mampu mengukur domain berpikir dan domain tindakan guru. Portofolio harus mampu menjadi media pengukuhan profesi guru secara konsisten (berkelanjutan).
Sebagai perangkat penilaian kinerja, portofolio harus mampu mengungkap pengetahuan teoretik dan konsepsi (keyakinan) guru, pikiran, dan keputusan guru yang menggambarkan bangun (domain) proses berpikir guru, serta perwujudannya dalam bentuk tindak pembelajaran.
Bangun proses berpikir guru ini sesungguhnya menunjukkan epistemologi dan paradigma belajar dan pembelajaran yang dibangun guru lewat proses resiprokal antara pengalaman berpikir dan bertindak di sepanjang perjalanan karier sebagai agen pembelajaran.
Penulis adalah Ketua LP3 Universitas Negeri Malang; Pegiat Kelompok Peduli Pendidikan Guru
Kompas Cetak
Sumber :

Continue Reading... Label:


20 Ciri Anak Anda Tergolong "Underachiever"

0 komentar




ILUSTRASI: Anak yang underachieve atau underachiever kemungkinan adalah anak yang kreatif, sangat verbal dan berkemampuan matematis yang sangat tinggi.


Menurut dr Sylvia Rimm, Profesor di Case Western Reserve University School of Medicine, Amerika Serikat, anak dengan keterbelakangan atau underachieverkemungkinan adalah anak yang kreatif, sangat verbal, dan memiliki kemampuan matematis yang sangat tinggi. Meskipun begitu, dengan bakat yang dia dimiliki, anak yang tergolong underachiever tidak sesukses anak-anak lain di sekolahnya.
Rimm, psikolog dan penulis buku laris See Jane Win itu, mengatakan bahwa underachievementdapat didefinisikan sebagai ketidakmampuan atau kegagalan untuk menampilkan tingkah laku atau prestasi sesuai usia atau bakat yang dimiliki anak. Menurut Rimm, dengan kata lain, potensi si anak tidak terpenuhi (unfulfilled potentials).
Memperkuat pandangan Rimm, menurut Montgomery seperti dalam jurnal Westminster Institute of Education, seorang anak dapat dikatakan underfunctioning bila memiliki lima dari indikator yang ada di bawah ini, yaitu:
1. Adanya pola yang tidak konsisten pada pencapaian dalam tugas-tugas sekolah
2. Adanya pola yang tidak konsisten pada pencapaian pada mata pelajaran tertentu
3. Adanya ketidakcocokan antara kemampuan dan pencapaian karena kemampuan yang dimiliki ternyata lebih tinggi
4. Konsentrasi yang kurang
5. Suka melamun atau mengkhayal di dalam kelas
6. Terlalu banyak melawak di dalam kelas
7. Selalu mempunyai strategi untuk menghindari pengerjaan tugas sekolah
8. Kemampuan belajar yang rendah
9. Kebiasaan belajar yang tidak baik
10. Sering menghindar dan tidak menyelesaikan tugas-tugas sekolah
11. Menolak untuk menuliskan apa pun
12. Terlalu banyak aktivitas dan gelisah atau tidak bisa diam
13. Terlalu kasar dan agresif atau terlalu submisif dan kaku dalam bergaul
14. Adanya ketidakmampuan untuk membentuk dan mempertahankan hubungan sosial dengan teman sebaya
15. Adanya ketidakmampuan untuk menghadapi kegagalan
16. Adanya ketakutan dan menghindar dari kesuksesan
17. Kurang mampu untuk menggali pengetahuan yang dalam tentang diri dan orang lain
18. Kemampuan berbahasa yang rendah
19. Terus berbicara dan selalu menghindar untuk mengerjakan sesuatu
20. Merupakan bagian dari kelompok minoritas

Continue Reading... Label:


 

Kompas

Return to top of page Copyright © 2010 | Flash News Converted into Blogger Template by HackTutors